cari

Memuat...

Dampak negatif dari mempelajari ilmu biologi

Bahaya Senjata Biologis

Biologys Weapons

              Senjata biologis dan bioteknologi
  
Senjata biologis sering disebut sebagai “senjata nuklir orang miskin” (Gould, 1997). Biaya maupun teknologi yang diperlukan untuk membuat senjata biologis jauh lebih rendah dan mudah dibanding senjata nuklir atau kimia. Walaupun demikian, efek penghancuran massa-nya tidak kalah hebat dibanding kedua senjata tadi. Menurut perhitungan Office of Technology Assessment di Konggres Amerika pada tahun 1993, 100 kg spora Bacillus anthracis yang disebarkan di atas ibukota Washington bisa menimbulkan korban 3 juta jiwa. Dalam kenyataannya, penyebaran bakteri serupa dari instalasi pembuatan senjata biologis Rusia di kota Yekaterinburg pada tanggal 2-3 April 1979 telah menelan korban tewas ‘puluhan ribu jiwa’ di daerah sekitarnya menurut laporan Union for Chemical Safety, walau laporan resmi pemerintah hanya 66 orang (Graeves, 1999).
Berbeda dengan senjata nuklir, senjata biologis punya banyak jenis. Walaupun senjata kimia juga mempunyai banyak jenis (seperti gas sarin, gas VX, sianida dan sebagainya), karena senjata biologis menggunakan agen hayati seperti virus dan bakteri, jumlahnya cenderung bertambah dengan munculnya berbagai macam penyakit infeksi fatal baru seperti virus Ebola, virus Lassa dan lain-lain. Namun demikian, agen yang benar telah dipakai sebagai senjata biologis adalah bakteri yang telah lama dikenal manusia, mudah didapatkan di alam dan tidak sulit penanganannya. Bacillus anthracis, penyebab penyakit anthrax adalah pilihan utama dan telah terbukti dipakai dalam kejadian di Amerika baru-baru ini maupun coba dibuat di Rusia serta Irak. Selain itu, bakteri yang mematikan dan tercatat sebagai agen senjata biologis adalah Yersinia pestis penyebab penyakit pes, Clostridium botulinium yang racunnya menyebabkan penyakit botulism, Francisella tularensis (tularaemia) dan lain-lain. Di lain pihak, karena bakteri-bakteri patogen itu sudah dikenal lama, pengobatannya sudah diketahui dengan berbagai antibiotika dan pencegahannya dapat dilakukan dengan vaksinasi.
Yang sebenarnya lebih mengerikan adalah senjata biologis dengan agen yang telah direkayasa secara bioteknologi sehingga tahan antibiotika, lebih mematikan, stabil dalam penyimpanan dan sebagainya. Yang paling mudah adalah rekayasa untuk sifat resistensi terhadap antibiotika. Sifat seperti ini biasanya hanya ditimbulkan oleh kumpulan gen sederhana atau bahkan gen tunggal, sehingga mudah dipindahkan dari satu jenis bakteri ke bakteri lain. Teknologi ini juga telah menjadi standar dalam setiap eksperimen biologi molekuler. Bacillus anthracis yang dapat dimatikan dengan antibiotika jenis Penicillin dengan mudah dapat dibuat resisten dengan men-transfer gen enzim -lactamase. Biopreparat, jaringan instalasi pembuatan senjata biologis di Rusia, dikabarkan telah merekayasa bakteri penyebab pes dengan resistensi terhadap 16 jenis antibiotika.

Hasil penelitian tim peneliti dari CSIRO-Australia yang dipimpin oleh Dr. Ronald J. Jackson yang dipublikasikan di Journal of Virology edisi Februari 2001, memberikan gambaran yang jelas. Tim peneliti itu melakukan rekayasa genetika terhadap virus mousepox untuk mengkontrol fertilitas tikus. Virus ini tidaklah begitu berbahaya, namun ketika keduanya juga mensisipkan gen protein interleukin-4, mousepox tersebut menjadi sangat mematikan. Padahal tujuannya hanyalah untuk meningkatkan efisiensi virus menurunkan kesuburan tikus dengan memperbanyak produksi antibodi terhadap sel telurnya sendiri. Hasil yang diluar dugaan ini menggemparkan masyarakat ilmiah karena virus mousepox merupakan kerabat dekat virus smallpox penyebab penyakit cacar. Dapat dibayangkan teknologi ini sangat mungkin diterapkan kepada virus cacar yang menduduki peringkat pertama dalam tingkat kebahayaannya sebagai senjata biologis.

Melarang senjata biologis


Perjanjian di tingkat internasional yang melarang penggunaan senjata biologis dimulai sejak Geneva Protocol tahun 1925. Akan tetapi, sejarah memperlihatkan bahwa pengembangan senjata biologis tetap berlanjut. Salah satu contoh yang terdokumentasi adalah penggunaan senjata biologis oleh tentara Jepang dalam perang dunia ke-2 di Cina. Untuk itu, pada tahun 1972 disepakati perjanjian Biological and Toxin Weapon Convention (BTWC) yang disponsori oleh PBB. Dalam perjanjian ini, lebih ditegaskan lagi mengenai “pelarangan dalam pengembangan, pembuatan dan penyimpanan segala jenis senjata biologis”. Sampai saat ini tak kurang dari 140 negara telah menandatangi perjanjian ini, termasuk Indonesia, Amerika, dan Rusia.
Akan tetapi kelemahan utama BTWC adalah tidak adanya kesepakatan bersama untuk pengawasan dan pembuktian, sehingga perjanjian ini mirip “singa tanpa gigi”. Rusia dan Irak terbukti mengembangkan senjata biologis walaupun ikut menandatangani persetujuan tersebut. Hal ini mendorong dibentuknya grup Ad Hoc pada tahun 1995 untuk membuat protokol inspeksi dan pembuktian di lapangan. Pada awalnya, Amerika mendukung penuh kerja panitia Ad Hoc itu melalui pernyataan Presiden Clinton tahun 1998. Akan tetapi, di akhir protokol tersebut hampir selesai, sikap Amerika dibawah pemerintahan Presiden Bush berbalik total dengan tidak hanya menolak protokol itu tapi juga mengancam akan keluar dari perjanjian. Sikap ini mengingatkan pada langkah Amerika keluar dari perjanjian Kyoto mengenai pengurangan emisi gas karbon dioksida atau perjanjian peluru kendali antar benua.
Alasan utama yang dikemukakan oleh Amerika pada bulan Juli 2001 lalu adalah ketidak sukaannya terhadap inspeksi yang bersifat rutin atau mendadak kepada segala instalasi militer, akademik ataupun industri yang berhubungan dengan persenjataan ini, yang mungkin menyebabkan bocornya rahasia perdagangan. Selain itu, Amerika khawatir protokol yang ada, dapat membahayakan perdagangan senjata dan teknologi terkait. Seperti dilaporkan jurnal Nature Biotechnology, sampai saat ini Amerika adalah peng-ekspor teknologi terkait, paling besar di dunia. Pada tahun 1994 saja, ada 531 lisensi yang dijual ke luar negeri. Kebijakan penolakan ini didukung kuat oleh asosiasi industri farmasi Amerika (PHRMA).

Kerugian


Penggunaan senjata biologi juga memiliki kelemahan yang apabila tidak diperhitungkan secara cermat dapat merugikan. Di antaranya adalah perlunya perhitungan cuaca atau kondisi yang tepat untuk melakukan penyebaran senjata tersebut karena sedikit perubahan arah angin dapat mengakibatkan agen biologi berbalik menyerang diri sendiri. Untuk agen biologi yang disebar melalui udara, waktu tinggal atau ketahanan mereka di udara merupakan hal yang penting untuk diketahui agar tidak terjadi infeksi sekunder pada pasukan penyerang ketika mereka memasuki daerah yang telah berhasil dilumpuhkan/diinfeksi.[12] Pasukan yang bertugas menyebarkan senjata biologi juga harus dilengkapi dengan berbagai alat pelindung karena risiko terinfeksi agen biologi yang digunakan sebagai senjata dapat dialami oleh mereka Beberapa jenis senjata biologi juga diketahui rentan terhadap radiasi matahari maupun perubahan cuaca sehingga agen biologi dapat terinaktivasi dan tidak dapat berfungsi dengan baik.[13] Untuk beberapa jenis senjata biologi seperti itu, biasanya dilakukan penyebaran pada larut malam atau pagi subuh sehingga radiasi matahari tidak akan mengganggu dan agen biologi dapat menyebar pada ketinggian yang rendah dan menyelimuti daerah yang diserang. Kerugian lain dari penggunaan senjata biologi adalah adanya beberapa agen biologi yang dapat bertahan lama di lingkungan (seperti spora Bacillus anthracis) sehingga daerah yang telah diinfeksi tidak dapat dihuni/ditinggali dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jenis radiasi umumnya terjadi di limbah radioaktif peluruhan radioaktif dan sampah.
Tiga jenis utama radiasi ditemukan oleh Ernest Rutherford, Alfa, Beta, dan sinar gamma. radiasi tersebut ditemukan melalui percobaan sederhana, Rutherford menggunakan sumber radioaktif dan menemukan bahwa sinar menghasilkan memukul tiga daerah yang berbeda. Salah satu dari mereka menjadi positif, salah satu dari mereka bersikap netral, dan salah satu dari mereka yang negatif. Dengan data ini, Rutherford menyimpulkan radiasi yang terdiri dari tiga sinar. Beliau memberi nama yang diambil dari tiga huruf pertama dari abjad Yunani yaitu alfa, beta, dan gamma.

•    Radiasi Alpha (α)

 Penyeluruhan Alpha
Peluruhan Alpha adalah jenis peluruhan radioaktif di mana inti atom memancarkan partikel alpha, dan dengan demikian mengubah (atau 'meluruh') menjadi atom dengan nomor massa 4 kurang dan nomor atom 2 kurang.
Namun, karena massa partikel yang tinggi sehingga memiliki sedikit energi dan jarak yang rendah, partikel alfa dapat dihentikan dengan selembar kertas (atau kulit).

•    Radiasi beta (β)


Penyeluruhan Beta
peluruhan beta adalah jenis peluruhan radioaktif di mana partikel beta (elektron atau positron) dipancarkan.
Radiasi beta-minus (β⁻)terdiri dari sebuah elektron yang penuh energi. radiasi ini kurang terionisasi daripada alfa, tetapi lebih daripada sinar gamma. Elektron seringkali dapat dihentikan dengan beberapa sentimeter logam. radiasi ini terjadi ketika peluruhan neutron menjadi proton dalam nukleus, melepaskan partikel beta dan sebuah antineutrino.
Radiasi beta plus (β+) adalah emisi positron. Jadi, tidak seperti β⁻, peluruhan β+ tidak dapat terjadi dalam isolasi, karena memerlukan energi, massa neutron lebih besar daripada massa proton. peluruhan β+ hanya dapat terjadi di dalam nukleus ketika nilai energi yang mengikat dari nukleus induk lebih kecil dari nukleus. Perbedaan antara energi ini masuk ke dalam reaksi konversi proton menjadi neutron, positron dan antineutrino, dan ke energi kinetik dari partikel-partikel

•    Radiasi Gamma (γ)

Penyeluruhan Gamma
Radiasi gamma atau sinar gamma adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran elektron-positron. Radiasi gamma terdiri dari foton dengan frekuensi lebih besar dari 1019 Hz. Radiasi gamma bukan elektron atau neutron sehingga tidak dapat dihentikan hanya dengan kertas atau udara, penyerapan sinar gamma lebih efektif pada materi dengan nomor atom dan kepadatan yang tinggi. Bila sinar gamma bergerak melewati sebuah materi maka penyerapan radiasi gamma proporsional sesuai dengan ketebalan permukaan materi tersebut.


Clonning

hewan merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan, yang tentunya tidak selayaknya untuk digandakan (dikloning). Tuhan menciptakan makhluk-makhluknya dengan membawa sifat yang berbeda-beda, karena Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan memperhitungkan ukuran dan kesesuaian untuknya (makhluk hidup), serta telah mempersiapkan kondisi-kondisi yang cocok baginya (makhluk hidup). Mengkloning tentulah sangat melanggar, terutama didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.

Pengkloningan hewan lebih banyak gagal dari pada berhasil. Berdasarkan data yang ada, satu-satunya hasil cloning hewan yang sangat kontoversial dan berhasil hidup paling lama dan adalah domba/biri-biri yang diberi nama “Dolly” (1997-2006). Domba Dolly mati akibat menderita penyakit persendian.

Ujicoba klon pada binatang yang selama ini telah dilakukan, lebih banyak menghasilkan bayi klon yang mati ketimbang yang hidup. Misalnya saja kelompok yang dipimpin Atsuo Ogura dari institut nasional untuk penyakit infeksi di Tokyo Jepang, melakukan kloning tikus jantan dan mengamati hasilnya. Dari 12 tikus kloning sepuluh diantaranya mati setelah berumur dua setengah tahun. Pembedahan bangkai tikus klon menunjukan penyakit yang berbeda-beda yang menyebabkan kematiannya. Ada yang mati karena radang berat paru-paru, kanker paru-paru, leukemia dan matinya jaringan hati. Sementara ujicoba klon tikus betina di Universitas Cincinnati Ohio yang dilakukan tim yang dipimpin Randall Sakai, menemukan penyebab lain, yakni kematian akibat kelebihan lemak. Pada binatang percobaan memiliki cacat yang bervariasi, akibat proses pemrograman balik oleh sel tsb. Hal inilah yang sampai sekarang tidak teratasi.



Seperti pendapat Arthur Caplan, pakar etika kedokteran Universitas Pennsylvania bahwa percobaan pada hewan umumnya hanya menciptakan satu keberhasilan dalam 400 percobaan. Caplan mengatakan. kloning juga sangat berbahaya Jika Anda melihat apa yang terjadi pada kloning hewan, setengah jumlah hewan hasil kloning mati dalam waktu satu tahun, sementara mereka yang bertahan hidup mengalami gangguan kesehatan.

Dalam sector pangan, hasil kloning hewan belum dipercaya untuk bisa dikonsumsi. Hal ini terjadi karena bahwa daging serta susu dari hewan hasil kloning seperti sapi belum terjamin dalam hal kualitas kesehatannya dan gampang sekali memiliki penyakit prion, salah satu jenis penyakit akibat rekayasa genetika. Faktanya adalah seperti di Jepang, ±530 Sapi dan ±246 Babi hasil rekayasa genetika (kloning) yang berstasus tidak jelas karena masih menunggu persetujuan untuk bisa dikonsumsi. Maka dari itu sama saja untuk dalam waktu dekat tetap tidak mempunyai manfaat.

Pada intinya, proses kloning adalah rangkaian eksperimen yang rumit dan memerlukan faktor keberuntungan, serta menggunakan dana atau biaya yang tidak sedikit. Bayangkan saja setiap pengkloningan membutuhkan dana yang besar, padahal dari 100 pengkloningan belum tentu ada yang berhasil. Secara logis, tentunya bisa dikalkulasikan berapa besar dan yang dibutuhkan. Bisa dikatakan terlalu banyak mengalami rugi, terutama bagi Negara yang belum mampu secara ekonomi financial.

Selain itu, kloning terhadap hewan dapat merusak struktur genetika hewan. Karena dengan mengkloning hewan, struktur genetika bawaan hasil kloning hewan dapat mempengaruhi, mengacaukan struktur genetika hewan yang ada.. Yang selanjutnya membawa dampak ke ekosistem.sejumlah pihak mengatakan


Transgenetic

Bahaya tanaman transgenik terhadap lingkungan :

 Tanaman transgenik, misalnya kedelai tahan hama, kedelai tahan herbisida, jagung bt, kapas bt, mempunyai potensi besar untuk merusak lingkungan. Potensi ini terkait dengan adanya gen asing di dalam tubuh tanaman yang kemungkinan besar bila berinteraksi dengan lingkungan sekitar dapat menimbulkan perubahan ekologi, misalnya matinya serangga bukan hama, dan meningkatnya ketahanan gulma terhadap herbisida.

Para ahli pro transgenik berpendapat bahwa penggunaan tanaman transgenik mempunyai dampak positif yang besar bagi lingkungan dengan tidak digunakannya produk pestisida sehingga dengan demikian dapat menghindari polusi dan bahaya racun pestisida terhadap lingkungan. Apakah pendapat ini benar?

Resiko perubahan ekologi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu sifat tanaman, sistem ekologi, cara bertani dan peranan pemerintah dalam mengatur lingkungan. Hubungan antar faktor-faktor ini mempengaruhi perubahan lingkungan bila menggunakan tanaman transgenik.

1. Tanaman toleran herbisida
•    meningkatnya ketahanan gulma yang mempunyai hubungan dekat secara taksonomi dengan tanaman transgenik terhadap herbisida akibat adanya penyebaran gen. misalnya jagung dan rumput berasal dari family gramineae
•    berkembangnya gulma tahan herbisida melalui proses seleksi lingkungan
•    dampak negatif terhadap populasi hewan liar akibat berkurangnya sumber makanan di alam. gulma merupakan sumber makanan bagi banyak hewan liar.

2. Tanaman tahan hama
•    meningkatnya populasi serangga tahan insectisida
•    keracunan terhadap serangga non-target, serangga bermanfaat, dan mikro organisme tanah
3. Tanaman tahan virus
•    meningkatnya penyebaran penyakit terhadap tanaman sekerabat dengan tanaman transgenik akibat penyebaran gen
•    meningkatnya kemampuan v



BAHAYA TANAMAN TRANSGENIK BAGI TANAMAN DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

Dari Literatur yang dapat dikumpulkan maka dapat diringkaskan bahaya tanaman transgenik bagi tanaman dan keanekaragaman hayati adalah sebagai berikut:
Gangguan terhadap lingkungan
•    Bahwa pola tanam di Indonesia kebanyakan bervariasi dalam satu luasan lahan, maka tanaman yang tanaman transgenik akan mempengaruhi tanaman lain yang ada disekitarnya, dengan demikian akan merubah varitas tanaman yang ada sehingga memunculkan spesies baru yang tidak terkendali.
•    Pola tanam banyak dikelilingi gulma baik di tanaman pangan maupun perkebunan, maka akan tanaman transgenik akan memunculkan perbanyakan silang dengan gulma yang ada di sekitarnya, dikhawatirkan akan mengakibatkan tumbuhnya gulma baru.
•    Jika tanaman transgenik tidak dimusnahkan dengan cara membakar, pada contoh jagung BT, beras BT atau kapas BT maka dapat memusnahkan jasad renik di dalam bekas penanaman. Dalam jangka panjang akan merubah struktur dan tekstur tanah.
•    Dengan contoh kasus musnahnya larva kupu-kupu, akan memberikan dampak putusnya mata rantai siklus mahkluk hidup. Dampak ini juga akan terjadi pada tanaman yang pada proses penyerbukan membutuhkan kupu-kupu tersebut.
•    Pengaruh tersebut, akan juga berdampak pada manusia, karena orang Indonesia memiliki hobi lalapan, akan menimbulkan penyakit tertentu jika jengkol, petai, dan tanman lain tercemar gen dari tanaman transgenik.
•    Pakan ternak, berasal dari hijauan ataupun dari konsentrat, jagung, dedak, kedelai dan lain sebagainya, jika sudah tercemar dengan gen transgenik akan memberikan dampak kepada ternak, yang selanjutnya juga akan membahayakan jika dikonsumsi oleh manusia.
•    Penyebaran gen transgenik yang dapat meyebar secara luas, antar spesies akan sangat membahayakan bagi keanekaragaman hayati, dan juga kesehatan manusia.

Genetic Polution

Dampak polusi terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

1.    Dampak Polusi Udara
Polusi udara dapat terjadi jika jumlah atau konsentrasi polutan (zat pencemar) di udara sudah melebihi baku mutu lingkungan. Untuk masing-masing polutan di udara mempunyai nilai baku mutu yang berbeda. Udara yang telah tercemar oleh polutan tertentu dapat menyebabkan turunnya mutu udara di lingkungan tersebut. Udara yang telah tercemar dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya secara langsung. Tetapi udara yang tercemar juga dapat berdampak yang cukup luas seperti pemanasan global dan hujan asam. Peristiwa pemanasan global ditimbulkan karena peristiwa rumah kaca. Sedangkan hujan asam adalah meningkatnya konsentrasi asam di udara seperti peningkatan jumlah SO2 (sulfur dioksida) diudara sebagai hasil dari pembuangan asap kendaraan bermotor dan industri atau hasil pembakaran bahan bakar fosil yaitu bahan bakar minyak dan batubara.

2.    Dampak bagi kesehatan

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia dan lingkungan adalah:

3.    Gas Karbon monoksida (CO)
Gas karbon monoksida (CO) di atmosfer dalam keadaan normal konsentrasinya sangat sedikit sekitar 0,1 ppm. Di daerah perkotaan dengan aktifitas penggunaan kendaraan bermotor dan industri yang padat, kkonsentrasi gas CO dapat mencapai 10 – 15ppm. Gas CO di dalam paru-paru bereaksi dengan hemoglobin pada sel darah merah yang dapat menghalangi pengangkutan oksigen ke seluruh bagian tubuh.
Tabel: Konsentrasi gas CO di udara dan pengaruhnya pada tubuh manusia bila kontak terjadi pada waktu cukup lama

Konsentrasi gas CO di udara (ppm)    Konsentrasi COHb dalam darah (%)    Gangguan pada tubuh
3    0,98    Tidak ada
5    1,30    Belum begitu terasa
10    2,10    Gangguan sistem saraf sentral
20    3,70    Gangguan panca indera
40    6,90    Gangguan fungsi jantung
60    10,10    Sakit kepala
80    13,30    Sulit bernafas
100    16,50    Pingsan hingga kematian
Dampak yang ditimbulkan adalah :
a)       Pusing/sakit kepala
b)       Rasa mual
c)       Pingsan (ketidak sadaran)
d)       Kerusakan jaringan otak
e)       Sesak nafas

Dampak negatif adanya penigkatan konsentrasi gas SO, NO dan O3 adalah :
a)       Iritasi mata
b)       Radang saluran pernafasan
c)       Gangguan pernafasan kronis (bronkitis, emfisema dan asma)

5.    Materi partikulat
Dampak yang ditimbulkan adalah penyakit paru mulai dari peradangan hungga kangker paru-paru.
Materi partikulat yang lain adalah timbal (Pb) yang bersifat toksit (racun). Timbal yang masuk ke dalam tubuh dan sudah terakumulasi dalam kosentrasi tertentu dapat menyebabkan :
a)       menyerang berbagai sistem tubuh seperti sistem pencernaan dan sistem syaraf.
b)       Radang paru-paru sampai kanker paru-paru
c)       Gangguan jantung
d)       Gangguan ginjal

6.    Asap rokok
Rokok terbuat dari tembakau mengandung Nikotin dan TAR
Nikotin adalah zat adiktif yang menimbulkan ketergantungan / kecanduan
Tar adalah senyawa polinuklir hidrokarbon aromatik
Undang-undang pengendalian rokok mensyaratkan kandungan Nikotin tidak boleh dari 1,5 mg dan kandungan tar tidak boleh lebih dari 50 mg.
Tar bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker)
Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya yaitu :
-       formaldehide, benzo-α-pyrene, (bagian dari tar)
-       nikotin,
-       gas CO.
Dampak yang ditimbulkan adalah :
a)       Gangguan pernafasan
b)       Penyakit jantung
c)       Flek di paru-paru
d)       Kanker paru.

Human Genom.

Gambar A. Genom manusia. Sumber: Figure 1.14( Brown, 2002).
Molekul DNA merupakan dua rangkaian yang saling berkaitan satu sama lain, keduanya disatukan oleh basis komponen kimia. Di dalam DNA terdapat gen di mana sel manusia membentuk pola yang menjadi protein. Molekul-molekul inilah yang membentuk tubuh manusia.
 
Gambar.Genom
Proyek keragaman manusia ini telah mendorong kita ke arah aspek-aspek kontroversial dari perangkaian genome. Proyek genom manusia ini memiliki arti penting dimana di dalamnya berisikan rekaman gen yang di antaranya terkait dengan penyakit yang menyerang manusia.
 
Gambar. Proyek genom manusia
Walaupun proyek genom manusia ini memiliki arti yang penting, tetapi juga memiliki bahaya adalah meningkatnya kemungkinan mutasi gen yang menyebabkan penyakit genetik sehingga berbagai usaha diperlukan dalam pengaturan dan kebijakan proyek ini. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan dan kehati-hatian harus diambil untuk meningkatkan keyakinan masyarakat dalam proyek ini.
 
Gambar. Genom manusia.
Ringkasan
Kemampuan perangkaian DNA dan genome ini dalam tahun-tahun belakangan semakin baik berdasarkan koleksi rangkaian yang semakin beragam. Proyek genom manusia mencapai tahap pendekatan genom utuh yang mengarah ke kloning. Penggunaan metode genomik komparatif untuk melengkapi dua rangkaian dalam rangka untuk mengidentifikasi gambaran genom umum. Berikut gambran genom manusia.













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar